Monday, January 26, 2015

TENTANG WANITA BERPAKAIAN MINIM DAN TERBUKA.

Tidak langka lagi jika wanita keluar rumah dengan berpakaian mini dan terbuka (auratnya di umbar-maksudnya di pertontonkan). Saya terkadang bertanya-tanya mengapa mereka berpakaian seperti itu?. Sepertinya mereka menikmati betul hal itu, tidak risih, tidak malu, tapi kenapa kalau dilihat oleh lelaki mereka marah?. 

Apakah mereka korban, tapi siapa yang mengorbankan mereka, kenapa mereka mau jadi korban lama dan atau terus menerus?. Bukankah mereka sudah dewasa dan memiliki akal semua!. Mereka itu korban apa?, korban lelaki, korban rumah tangga yang hancur, korban pergaulan, korban mode, korban zaman, atau korban setan, iblis atau jin?. Entahlah.

Dalam hati saya mungkin para wanita yang berpakaian mini dan mengumbar aurat itu, sudah berpikiran moderen, dan sudah sadar serta sangat paham bahwa dengan berpakaian mini dan membuka aurat tidak akan merubah apapun pada penampilan fisiknya. Maksud saya, para perempuan itu sudah tau bahwa kalau cuma dilihat orang (baca lelaki). Tidak ada yang akan lepas/copot, tidak akan yang rusak, tidak ada yang berkurang, atau bahkan tidak akan ada yang bertambah misalnya dari dua benjolan menjadi tiga benjolan. Jadi tidak perlu risih, tidak perlu malu dan tak perlu segan-segan. Berangkat dari kesadaran itulah maka makin banyak wanita, mulai dari anak-anak (orangtua yang belikan), remaja, hingga ibu-ibu yang berpakaian, super mini, dan terbuka/membuka auratnya. 

Wanita berpakaian mini, terbuka auratnya menjadi hal biasa, tidak menjadi persoalan lagi bagi banyak orang, bahkan membuka aurat sekarang menjadi komoditi yang bisa menghasilkan uang, bisa populer. Hal yang biasa itu mengakibatkan wanita ingin 'sesuatu yang lebih atau sesuatu yang tidak biasa'. Kemudian pakaian itu menjadi semacam perlombaan menjadi siapa yang paling mini dan siapa yang paling terbuka auratnya. Pada tingkatan yang lebih 'maju' sudah banyak saat ini wanita yang mengaku, mengumbar serta menyebar luaskan 'aibnya' sendiri. Mereka dengan santai dan penuh 'kepuasan', bercerita perselingkuhan, perlakuan buruk/aib lainnya di depan media masa. Itu salah satu dampak dari cara berpakaian.

Para wanita karena sudah merasa tidak risih, tidak segan-segan dan atau tidak malu-malu lagi, mereka pun beranggapan bahwa sosial budaya tidak menolak lagi, agama tidak melarang dan hal itu tidak berdosa. Secara perlahan mereka (para wanita) mulai memisahkan persoalan agama dengan persoalan cara berpakaian mereka. Maksudnya, cara berpakaian mereka tidak boleh dihubungkan dengan agama mereka, 'agama ya agama', 'cara berpakaian ya tersendiri'. Cara berpakaian menurut mereka tidak mencerminkan agama mereka, makanya berpakaian super mini dan terbuka (auratnya) tidak berdosa, itulah yang ada dalam benak mereka saat ini?. Itulah logika sederhana saya, melihat perilaku berpakaian wanita saat ini.

Jika makin banyak wanita menganggap hal itu tidak berdosa, maka benarlah jika menurut Nabi Muhammad SAW penghuni Neraka itu lebih banyak kaum wanita?. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk saya, keluarga saya dan siapapun yang membaca.

No comments: