Tuesday, June 17, 2014

PANJANG UMUR SAMPAI 80 KEATAS, MIKIR AH...

Hari minggu tanggal 15 Juni 2014 yang lalu, saya sama istri dan seorang tukang mendatangi rumah seseorang di perumahan seputaran Tiban-Batam, untuk memasang sesuatu. Ketika hendak memasang asesoris disebuah kamar dirumah itu, saya lalu melihat seorang Bapak tua renta, kurus, lesu, hampir-hampir tak berdaya, ia hanya terbaring disebuah kasur, diujung bagian atas kasur dipasang pipa untuknya berpegang jika mau berdiri. Kemudian sang ibu rumah yang mengundang istri saya (anak sang Bapak) berusaha membangunkan sang bapak dari kasurnya, untuk dipindahkan keluar. Saat saya mendekat si bapak menatap saya begitu lama, mungkin karena ia tak kenal dan berusaha mengingat-ingat atau bertanya-tanya. Saya lalu menyapa agar suasana menjadi 'cair'.

Saya kemudian segera membantunya untuk berdiri dan berjalan dengan menempatkan tangan kirinya diatas bahu saya sedang anakknya (sang ibu rumah) bagian sebelah kanan si Bapak. Saat telah berdiri hampir saja sarung yang ia pakai melorot, namun si bapak masih berusaha membenarkan dengan tangan kanannya yang tidak lagi tegap sehingga sarung itu tidak jadi melorot, kulitnya begitu halus dan lembut. Ternyata sarung itu tak boleh terlalu kuat dipasang karena akan membuat perutnya sakit. Lalu kami bertigapun berjalan keluar dari kamarnya, dan mendudukkan si bapak disebuah kursi.

Setelah si bapak duduk dengan posisi benar dan baik, sekali lagi saya menegurnya berusaha akrab. Namun si bapak hanya melihat saya dingin, tanpa bereaksi apapun, persis (maaf) seperti bayi. Kata si ibu rumah (anak sibapak), pendengarannnya sudah berkurang. Saya lalu melanjutkan membantu tukang. Sekali-sekali saya amati sibapak dan sayapun kemudian menerawang jika saya seperti itu.

Tadi malam saat saya dan istri hendak mau tidur, sambil baring tiba-tiba istriku bercerita tentang sibapak yang saya ceritakan diatas. Rupanya saat saya permisi sholat zhuhur ke mesjid saat itu siibu rumah dan istri saya memindahkan sibapak ke kamarnya kembali dan istriku rupanya sempat ngobrol tentang si bapak. Sibapak sudah lebih dari 86 tahun, pernah kerja di kapal istrinya juga sudah tua tapi di kampung-Sumatera Barat.

Herannya saya sama istri ada kesamaan fikiran. Apa yang kami sama-sama fikirkan, kami jadi khawatir jika nanti tua seperti Bapak itu. Mungkin lupa banyak hal, teman, kerabat, masa lalu, lupa sholat, lupa kalau sudah pipis, lupa kalau sudah buang air besar, ya..tua fisiknya namun tingkah lakunya seperti anak-anak balita lagi. Menjadi pikun, menjadi ujian kesabaran yang sangat berat buat anak-anakku atau orang lain,  itulah yang menjadi kekhawatiran kami berdua.

Tentu saja banyak orang berharap berumur panjang, namun ternyata tidak cukup hanya berumur panjang karena bila kondisi fisik serta tingkah laku kita disaat itu menjadi ujian kesabaran bagi orang-orang disekeliling kita, maka umur panjang itu mungkin jadi sia-sia. Alhamdulillah jika mereka sukses dan sabar melayani, tabah namun jika mereka tidak sukses dalam ujian kesabaran, maka bisa sangat menyiksa semua pihak (kita sendiri, anak-anak dan orang disekitar kita), dan ujungnya kita dititipkan di panti jompo, masya Allah. Astaghfirullah. Janganlah memohon kepada Allah untuk dipanjangkan umur, namun umur panjang itu menjadi sia-sia. Ya Allah ampunkanlah aku, istiku dan anak-anakku. Jadikanlah umur kami menjadi umur yang Engkau berkahi, dan Engkau ridhoi, aamin.

No comments: