Wednesday, June 18, 2014

MEMBELI SERTIFIKAT TANDA KHATAM AL QURAN.

Pagi ini Rabu tanggal 18 Juni 2014, saya begitu terkejut tapi dalam keterkejutan saya itu saya hanya terdiam. Kenapa pula saya terkejut. Sebelum berangkat tadi istri saya sempat bercerita. Ada teman-teman anak saya yang lagi menunggu pengumuman kelulusan SD, membeli sertifikat tanda telah khatam membaca Al Quran. Harganya sekitar Rp 150.000,- per anak. Kenapa pula harus terkejut.

Salah satu syarat untuk masuk SMP Negeri di Batam bagi yang beragama Islam wajib memiliki sertifikat khatam Al quran (sertifikat sebagai tanda berkemampuan membaca Al quran). Ini bagus, bagus sekali. Nah..anak saya dan anak-anak yang lain berjuang bertahun-tahun untuk mampu membaca Al Quran. Setelah khatam membaca Al Quran tidak langsung mendapatkan sertifikat. Untuk mendapatkan sertifikat itu anak saya dan anak-anak lain dipersiapkan selama kurang lebih sebulan-hampir tiap malam oleh TPAnya. Menghafal ayat-ayat pendek, doa-doa, dicek ulang bacaanya (tajwid), ilmu-ilmu agama lainnya. Lalu oleh para ustad (guru ngajinya) dilakukan test persiapan tingkat TPA masing-masing, kemudian ujian sertifikasi dilaksanakan oleh panitia yang telah dipersiapkan dan ditunjuk, dan tidak semua peserta dinyatakan lulus. Masa-masa anakku belajar ngaji, terkadang aku marah bila ia lalai atau absen mengaji, karena aku memang ingin anakku harus bisa. Dan juga aku gak ingin kelak ia nuntut aku di akhirat.

Ini adalah urusan agama, Islam pula. Dalam hati saya mengapa sertifikat seperti itu bisa di beli. Sama siapa belinya, kenapa pula orang yang lebih paham agama melakukan ini, terus apa bisa diakui. Kalau ini benar berarti ada yang mempermainkan agama, ada yang tak takut dosa, ada yang ingin mengambil keuntungan dunia. Kenapa pula orangtua mau melakukan hal ini, kenapa pula hal ini terjadi?.

Setahu saya ada beberapa teman-teman anak saya yang memang oleh orangtuanya tidak dipaksa rajin mengaji, lebih penting les ini dan itu. Anaknya dimarahi jika lesnya tidak dihadiri, akibatnya hingga menjelang kelulusan SDnya dan saat dilaksanakan wisuda khatam Al Quran, anaknya tak kunjung khatam membaca Al Quran. Dan kelabakan itupun tiba ketika sianak mau masuk SMPN favorit, dan kelabakan lain muncul ketika biaya masuk SMP Swasta favorit selangit.

Ini ibarat hukum 'permintaan dan penawaran'. Cuma mengapa harus dibidang agama, kenapa pula harus melibatkan anak-anak. Inikan secara tidak langsung mengajarkan kepada anak untuk berbuat curang, menghalalkan segala cara. Terus kalu sudah besar nanti gimana ya. Ya Allah...Lindungilah Aku, istri, anak-anak, keluargaku dari segala godaan setan, fitnah dunia, fitnah dajjal dan dari siksa kubur, siksa neraka, dan Ya Allah ya rab... ajarilah kami untuk selalu bersyukur kepadaMU, selalu ingat padaMU, dan beribadah secara iklas dan sabar karena MU. aamin.