Friday, October 28, 2011

KERAJAAN SRIWIJAYA; Minimnya Informasi.

Membaca buku Karya O.W Wolters (akademiskus, sejarawan paling berpengaruh asia tenggara, penulis dari Inggris (1915-2000). Berjudul Kemaharajaan Maritim SRIWIJAYA & Perniagaan Dunia abad III - Abad VII, diterbitkan Komunitas Bambu, cetakan pertama-September 2011, mulai terkuaklah sedikit demi sedikit betapa besarnya kerajaan ini, jauh lebih luas dari yang pernah dibayangkan, halaman 1. Walau aku membaca buku ini belum selesai tebalnya saja 361 halaman, baru bab I dan bab II.

Mungkin selama ini kita hanya mengetahui Kerajaan Sriwijaya ini besar, tapi kita tak pernah tahu asal usulnya, seberapa besar dan kebesarannya, mengapa ia begitu besar, apa faktonya?, mengapa pula harus bermarkas di Palembang? Adakah hubungan para raja-raja serta keturunannya dengan orang Palembang?. Sebetulnya masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa dijawab hingga kini, untuk mengungkap lebih banyak tentang kerajaan yang luar biasa besar di Nusantara. Selama kurang lebih 500 tahun berperan penting dalam perdagangan di Asia. Bab I halaman 1. Sungguh waktu yang tidak singkat.

Pada abad pertengahan Kerajaan Sriwijaya merupakan pusat perdagangan yang sangat terkenal, halaman 2. Kerajaan ini mampu menguasai dan mengendalikan lalu lintas manusia, barang serta kapal-kapal di selat Malaka dan Kedah di Malaysia merupakan salah satu pos terpenting kerajaan Sriwijaya kala itu untuk mengontrol kegiatan di Selat Malaka. Inilah yang menurut para sejarawan, salah satu penyebab kerajaan ini begitu besar. Namun bagaimana perdagangan itu, masih tetap misterius, halaman 7 dan 20. Di kedah ditemukan prasasti tentang itu.

Adalah sangat wajar jika buku, catatan-catatan, kisah-kisah tentang Kerajaan Sriwijaya sangat minim, sehingga pengetahuan kita tentang Kerjaan besar inipun sangat minim. Mengapa?.


Pertama kala ini memang dunia tulis menulis masih sangat minim, pihak kerajaan hanya menulis di batu (prasasti) itupun dilakukan penulisan kalau ada hal-hal penting misalnya menyangkut penaklukan daerah baru, sumpah setia taklukan baru. Sementara yang menyangkut tradisi, aktifitas budaya kerjaan lainnya belum atau tidak banyak ditemukan atau bahkan tidak pernah ditulis. Mungkin pihak raja terlalu sibuk mengontrol kekuasaan diberbagai daerah yang telah ditaklukan agar tidak memberontak atau malah agar tidak dicamplok kerajaan lain. "Sriwijaya hanya meninggalkan sedikit peninggalan arkeologi dan epigrafi, mungkin karena raja-raja negeri tersebut sibuk mengurusi perdagangan ketimbang membangun kuil-kuil atau menulis kata-kata pujian", halaman 5.

Kedua prasasti yang pernah ditulis oleh pihak kerjaan Sriwijaya mungkin saja sangat banyak, namun mungkin pula batu atau media tempat menulis itu belum ditemukan hingga kini, atau telah rusak, telah hancur baik oleh tangan-tangan manusia atau faktor alam yang memang bisa menghilangkan, mengancurkan dikarenakan sudah berabad-abad lamanya atau tenggelam dilaut, disungai, didarat yang terpendam hingga bermeter-meter dalam tanah.

Ketiga sumber-sumber tulisan tentang kerajaan Sriwijaya lebih banyak terdapat di Cina dan Arab, halaman 7 dan 10 ,  karena kedua bangsa itulah pada saat kerjaan ini jaya mencatat dan menceritakan tentang kerajaan ini, kedua bangsa ini selain India telah aktif melakukan kunjungan sosial dan politik dan pertukaran barang atau perdagangan dengan kerajaan Sriwijaya.

Minimnya informasi, catatan, arkeologi dan sebagainya, menyebabkan hingga kini tidak terjawab asal usul kerajaan ini, mengapa Palembang dipilih sebagai markas kerajaan. Orang Sumatera Selatan tentu tidak cukup tahu dan bangga pernah memiliki kerajaan terbesar di Nusantara bahkan di asia Tenggara. Ternyata masih banyak hal-hal misteri dari kerajaan besar ini. Dan hendaknya menyadarkan kita untuk bangkit agar orang Sumatera Selatan bisa dominan di Nusantara dengan karya-karya mereka dan tidak malu menjadi orang Sumatera Selatan. Insya Allah bersambung...semoga bermanfaat.
Enhanced by Zemanta

No comments: