Monday, February 23, 2009

SETIAP KITA ADALAH PEMIMPIN

Rasullah Bersabda :
“Orang kuat yang pemberani adalah orang yang dapat mengalahkan dirinya sendiri, bukan yang dapat mengalahkan orang lain”.
“Orang yang paling dicintai Allah dan paling dekat denga NYA adalah Sultan yang adil, sedangkan orang yang paling dibenci Allah dan paling jauh dengan NYA adalah Sultan yang jahat”

Setiap kita adalah pemimpin, baik bagi orang banyak, untuk keluarga, maupun untuk diri sendiri. Setiap kepemimpinan adalah amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan oleh masing-masing individu. Apakah orang yang berani dan kuat bisa disebut pemimpin, belum tentu. Manusia itu memiliki sifat sombong dan pemarah. Pemimpin jika tak terkontrol saat melihat kesalahan anak buah cendrung marah lalu menjatuhkan hukuman. Padahal kemarahan selalu berujung pada pembinasaan akal sehat dan awal matinya nurani serta kasih sayang.

Umar bin Khatab : “Jangalah engkau percaya pada akhlak (perilaku) seseorang sampai engkau mengujinya ketika ia marah”. Orang yang cendrung pemarah biasa dianggap tidak stabil, tak bisa dipercaya, dan lemah. Oleh sebab itu marah bukanlah pilihan tepat untuk menunjukkan bahwa kita adalah seorang pemberani. Marah juga bukanlah pilihan tepat ketika kita bermaksud meluruskan kesalahan, atau membetulkan perilaku anak yang menurut kita tidak sesuai apalagi kemarahan itu disertai dengan aksi fisik. Marah juga bukan pilihan tepat jika hanya ingin menunjukkan siapa kita, menunjukkan power kita, menunjukkan pengaruh kita. Orang sering lupa kenapa sesungguhnya harus MARAH??!.

Jadilah pemimpin yang mampu mengendalikan emosi (pemaaf), walaupun kita sesungguhnya mampu membalasnya. Pemimpin sering kali memiliki godaan yang begitu banyak. Karena merasa pemimpin, kemudian berdatangan berbagai penyakit. Penyakit itu misalnya “penyakit tangan” tak mampu membuka pintu sendiri lagi, tak mampu bawa tas sendiri lagi, serba tak mampu melakukan sendiri lagi.

Nabi Muhammad SAW pernah ditegur Malaikat Jibril ketika Rasulullah SAW sehabis memimpin perang badar, duduk dibawah naungan. “Wahai Muhammad, engkau duduk dibawah naungan, sementara sahabat-sahabatmu berada dibawah sorotan sinar matahari”. Namun saat ini, pemimpin seperti itu jarang ditemukan, apalagi karena telah dihinggapi berbagai “penyakit pemimpin”. Merasa berhak untuk mendapatkan jatah itu, merasa berhak diperlakukan seperti itu, atau tak level lagi melakukan pekerjaan itu.

Sekedar untuk saling mengingatkan dan saling menasehati. Semoga bermanfaat dan menjadi bahan renungan kita, kita ingin menjadi orang yang berprinsip “KAWAN SEJATI ADALAH KAWAN YANG MENASEHATI SAAT KITA BENAR MAUPUN SAAT KITA SALAH”.

No comments: