Thursday, February 5, 2009

KAMPUNGAN

Kita semua tentu pernah dengar kata “Kampungan”. Sebuah ungkapan yang cendrung meremehkan, mengejek, merendahkan. Jika mendengar ungkapan tersebut karena ada tingkah laku, perbuatan, tutur, sikap yang dianggap tidak sesuai aturan, tidak bermoral, tidak kren, tidak maju, tidak elegan atau tingkah lain yang tidak PERKOTAAN. Menurut asal bisa jadi ungkapan tersebut merupakan ungkapan orang kota yang melihat tingkah orang kampung dari sisi pengetahuannya orang kota.

Merasa orang kota yang sudah maju, gaul dan sangat memiliki tatakrama tinggi kemudian melihat orang kampung yang serba tidak maju, tidak memiliki tatakrama, sopan santun, beradab, atau tidak sesuai selera seperti orang kota maka disebutlah “KAMPUNGAN”. Itu versinya orang kota, sesungguhnya sangat tidak adil. Jika orang kampung melihat orang kota mungkin orang kampung akan melihat tingkah laku orang kota juga tidak wajar, tidak bertatakrama, tidak bermoral, tidak beradab, tapi mereka orang kampung tidak pernah kita dengar menyebut “KOTAAN” untuk menyebut orang kota yang dianggap tidak wajar atau tidak beradab itu. Mungkin karena faktor keluguan atau kesempatan orang kampung sehingga ungkapan “kotaan” tidak kita dengar. Bisa juga sudah banyak yang menganggap bahwa dirinya tidak lagi ada kaitannya dengan kampung baik secara garis keturunan maupun secara emosi atau yang menyebut kampungan itu tidak pernah mengetahui secara mendalam sesungguhnya seperti apa kampung dan orang kampung itu.

Bahkan sekarang ini tindakan tidak wajar, tidak senonoh, tidak beradab, tidak bertatakrama justru lebih menonjol sering terjadi di perkotaan. Ditingkat elit yang sangat terhormat. Di DPR, di ruang diskusi orang-orang sekolah tinggi, bahkan pejabat tinggi, dan artis. Mereka melakukan tindakan itu terkadang dihadapan publik, didepan kamera televisi yang tentunya ditonton banyak orang, sangat jauh dari suasana perkampungan. Pakaian sempit memperlihatkan lekuk tubuh, pakaian setengah tiangpun menjadi pemandangan sehari-hari. Rambut diwarnai, badan dilukis menjadi hal wajar. Jika tak seperti itu dianggap ketinggalan zaman dan tak gaul.Umumnya mereka merasa hal itu wajar dan hak pribadi untuk mengungkapkan perasaan dan emosi. Dan sebahagian mereka menganggap itu juga adalah bentuk kemajuan peradaban manusia.

Akibat merasa KOTA yang sangat kren, gaul, maju dan selalu mengikuti tren dan mode. Sosial, budaya, tutur kata, dan cara berpakaian yang kental Indonesia mulai ditinggalkan. Kita mulai kehilangan identitas diri, dan kita hanya menjadi pengikut saja, padahal semua itu belum tentu baik bagi diri kita, kita belum tentu benar-benar nyaman dengan pakaian sempit dan setengah tiang itu. Ironis sekali, ketika itu berlaku pada orang kampung mereka sebut kampungan sedang jika itu berlaku pada orang kota ini adalah hak pribadi dan bentuk kemajuan peradaban. Sebuah upaya penyampaian pembenaran bukan kebenaran. Sungguh tak adil.

Kolubi Arman, SE

No comments: