Monday, April 13, 2015

ADA FAKTOR 'X'

Minggu sore 12 April 2015, setelah keliling-keling Batam Center dengan motor dengan istri, kami singgah di warung Bakso di Legenda Malaka Blok H Batam Center. Tempat ini sebenarnya rumah yang di sulap menjadi tempat usaha. Tidak ada tempat parkir dan jalan kecil didepan rumah itu termasuk jalan utama karena menjadi penghubung ke beberapa blok perumahan, ke sekolah, pasar/pertokoan dan beberapa mesjid. Jadinya jalan itu ramai selalu. Saya sama istri singgah bukanlah kali pertama namun kami tidak pula sering.

Begitu masuk saya melihat ada lontong, terus saya berujar sama istri saya "itu lontong untuk apa ya?". "untuk dimakan sama bakso". Ujar istri saya. Ruangan 3 kali 6 meter itu begitu terasa sempit, warna dindingnyapun sudah tidak terawat, bahkan dinding yang bersentuhan langsung dengan ujung meja mulai berlubang-mungkin akibat terlalu sering mendorong meja kearah dinding. Spanduk yang ditempel terlihat daftar menu berikut gambar yang ada; bakso tahu, bakso urat, bakso mie, bakso lontong, mie ayam dan seterusnya.

Saya pesan bakso tahu dan jeruk peras hangat, istri saya pesan bakso mie dan teh obeng. Isi bakso tahu itu 3 buah bakso ukuran sedang dan 2 tahu berbentuk segitiga berisi daging bakso. Saya langsung menghirup kuah bakso itu dengan sendok. Bagitu sampai di lidah terasa kuat sekali penyedap masakan (micin Orang Komering Sumsel sebut). "ini satu sendok teh kali penyedapnya" ujar saya sama istri, istri sayapun langsung mencoba kuah bakso pesanannya. Dalam waktu singkat bakso saya habis, lalu meminum jeruk peras hangat, eh....malah rasanya seperti jeruk yang sudah mulai membusuk, tak segar.

Sambil menunggu istri saya menghabiskan baksonya, saya perhatikan suasana dalam warung bakso itu. Saya penasaran kenapa ramai?. Padahal rasa bakso itu sama dengan bakso-bakso tempat lainnya, pelayanannya juga sama saja tidak ada yang istimewa, tata letak ruangan juga biasa, bahkan sangat biasa, penerangan juga biasa, pendingin udara hanya kipas, lantai juga tidak terlalu bersih lumayan banyak tisu berserakan dibawah bahkan sebahagian sudah mulai menghitam. Apa yang membuatnya ramai?/ banyak di kunjungi orang.

Lalu saya juga teringat ada satu penjual pecal, juga di Legenda Malaka, tak jauh dari mesjid Quba, penjualnya sepasang suami istri yang sudah lumayan berumur. Usaha pecal ini juga ramai, berjualan mulai sekitar pukul 10 siang sampai selesai. Saya juga bingung, apa penyebabnya banyak dikunjungi orang dan berulang-ulang. Dulu tidak menyediakan meja kursi untuk makan ditempat,  mungkin karena warungnya kecil, si ibu yang melayani pembeli boleh di kata sangat lambat, orang rela antri berlama-lama. Soal rasa saya kira sama saja dengan pecal-pecal yang lainnya, tidak ada yang istimewa. Sampai sekarang masih ada namun sedikit perubahan sudah ada meja dan kursi untuk sekedar tempat duduk menunggu. 

Kalau disimpang Kara Batam Center, tepatnya di Jalan Bakal menuju Anggrek Mas. Ada dua warung yang juga selalu ramai. Satu warung yang menjual bakso, mie ayam, dan nasi goreng. Sudahlah tempatnya kecil, udara dalam ruangan lumayan tidak segar bahkan agak panas karena atapnya begitu rendah, dan sempit. Termasuk kios liar (tidak berizin-dilahan hijau) bangunannya seadanya. Warung kedua, gerobak nasi goreng (pemiliknya Indramayu/Cirebon-saya lupa), tak jauh dari warung bakso dijalan Bakal juga. Berjualan diemperan jalan, numpang didepan warung lainnya, juga hanya menyediakan bangku untuk menunggu atau jika makan ditempat numpang duduk dalam warung orang. Juga selalu ramai, banyak yang antri. Saya juga bingung dimana letak penyebab ramai. Padahal soal rasa juga tidak ada yang istimewa, apalagi tempat serta pelayanan.

Saya ingin membandingkan dengan sebuah usaha yang sudah dikelola secara maksimum. kenapa saya katakan secara maksimum?. Waktu pembukaannya meriah sekali, mengundang Wakil Gubernur KEPRI, masuk koran, baik sebagai berita maupun iklan. Menempati 3 pintu toko besar, konsepnya sudah seperti 'cafe', meja, kursi, tata letak, warna dinding, tampilan daftar/gambar menu yang aduhai, pelayanan yang terlatih, lengkap dengan kasir. Lokasinya strategis di Legenda juga. Lalu tak lama membuka cabang di Jalan utama ke Batu Aji-Batam, dengan konsep yang sama bahkan 2 lantai tempat parkir luas. Nasib usaha ini tak lama, entah kenapa keduanya tutup. Padahal persiapan, iklan/promosi, tampilan usaha (menu, tata letak meja kursi, warna dinding sudah sangat maksimum) tapi kenapa tidak ramai dan lalu tutup. Usaha dengan persiapan, modal, promosi, lokasi strategis, seperti ini di Batam tidak sedikit yang akhirnya tutup. Seperti Martabak Har di Nagoya Hill, dan beberapa usaha lainnya yang terlihat 'aduhai' diawal, tapi singkat umurnya. Saya mulai khawatir melihat Giant yang baru dibuka beberapa bulan lalu di Batam, nasibnya tidak berumur panjang. Gerai Giant di Legenda itu sepi pengunjung, padahal Giant mengaku produk yang dijual murah, bahkan pasti lebih murah. Tapi lihatlah Giant dilegenda itu sepi, bahkan keramaiannnya di kalahkan oleh mini market tetangga Giant (seberang jalan). Tentu kita tak perlu ragu, keahlian dan kemampuan Giant dalam mengelola usaha, dan berpromosi, mengapa sepi?, Padahal, Giant sudah dikenal secara nasional karena sering beriklan di media TV nasional.

Sementara ada beberapa usaha (seperti yang saya ceritakan diatas), dengan persiapan, pengelolaan seadanya tapi ramai dan berumur panjang. Namun ada usaha dengan modal besar, persiapan/ pengalaman matang, pengelolaan yang matang dan hebat malah tidak berumur panjang. Ada apa?. hebat dan Matang dalam teori usaha, teori pemasaran, modal besar, matang pengalaman dan teori sukses, tidak selamanya menjadi jaminan akan sukses dan langgengnya sebuah usaha. Saya kira ada "faktor x", yang sulit kita pahami. Ada kekuatan lain, yang maha mengatur, maha merencanakan, maha hebat, maha kuasa. Mungkin juga perlu diubah niat awalnya, misal untuk membuka lapangan kerja bagi pengangguran, atau untuk membantu pendapatan rumah tangga, karena alasan anak-anak. dan seterusnya. Sebetulnya saya juga belum memahami mengapa usaha-usaha yang saya ceritakan di atas, sukses dan mengapa tidak sukses padahal secara teori usaha, teori pemasaran sudah dilakukan tapi tetap tidak sukses. Hanya Allah lah Yang Maha Segala-galanya.

No comments: