Friday, February 20, 2015

DIPANGGIL KAKEK (AKAS-Orang Komering)

Kemarin 19 Feb 2015, saat saya mau ke mesjid untuk sholat ashar, disebuah jembatan kecil antara perumahanku dengan perumahan eden park bertemu dengan sekelompok anak-anak. Kalau melihat penampilannya mereka, sepertinya anak-anak dari Timur, mereka ikut merayakan Imlek, hari rayanya Orang China. Terdengar suara mereka memanggil-manggil tetangga saya yang umumnya orang keturunan china "tante-tante, gong xi fa cai". Kalimat itu berulang-ulang di lontarkan, mungkin tantenya tak dengar.

Jembatan itu lumayan kecil, hanya muat untuk satu motor atau sepeda. Jembatan itulah yang selalu saya lewati jika hendak ke mesjid, karena lebih dekat. Ada anak berujar 'silahkan lewat kek'. Saya hanya tersenyum, namun saya kurang begitu menerima atau suka dipanggil kakek. Beberapa waktu sebelumnya, juga saat mau ke Mesjid saya ditegur sama anak-anak China tetangga kami, juga memanggil saya kakek, entah kenapa perasaan saya juga kurang menerima dan tak begitu suka. Padahal sepertinya saya memang sudah wajar dipanggil kakek, rambut...alhamdulillah hampir putih semua. Dan memang saya sudah hampir setengah abad, kalau di beberapa tempat bahkan di kampung saya sendiri Banding Agung, di Ogan Komering Ulu Timur-Sumsel umur segitu malah sudah bercucu. Maklum saja usia muda (belum tamat SMP) sudah menikah.

Sebenarnya saya waktu masih bujangan (waktu belum menikah pun) sudah ada yang memanggil akas/kakek. Saya masih ingat tahun 1992 saya pulang kampung, setelah sekian lama sejak merantau ke Aceh 1977, saat itu sudah ada yang panggil saya akas/kakek. Saya terkejut sekalian bangga, entah kenapa saya bangga kala itu.

Di kampung urutan, kekerabatan itu terjaga. Dikarenakan terjaga, tutur atau panggilan ke sanak famili juga di jaga. Jadinya walau tahun 1992 itu saya baru tamat kuliah dan masih bujangan, sudah ada yang memanggil saya akas/kakek. Kala itu saya berkesimpulan panggilan akas/kakek tidak harus tua atau sudah menikah dan sudah bercucu. Jadi bangga karena merasa derajat kekerabatan saya lebih, masih mudah sudah dipanggil akas/kakek.

Tapi kali ini saya dipanggil kakek, kurang senang dan tak begitu suka. Ketika kejadian saya dipanggil kakek, saya ceritakan sama istri, istri saya pun tertawa. Jangan-jangan saya sudah mulai khawatir bahwa saya sudah mulai tua, terutama secara fisik. Tua secara fisik nampaknya tidak bisa tertutup lagi, rambut putih/beruban-padahal sejak SMP rambut saya sudah mulai tumbuh putih, kulit wajah yang mulai kendur dan menurun.

Saya khawatir tua berarti semakin banyaknya kenikmatan yang berkurang, tua saya khawatir karena belum siap, belum banyak bekal untuk menghadap Allah. Dan saya memang menyadari bahwa saya banyak kekurangan dan dosa, sehingga khawatir jika dosa-dosa dan kesalahan saya tidak diampuni, maka merugilah saya. Tua juga berarti semakin mendekatkan pada ujung kehidupan di dunia.

Ya Allah, ampunilah segala khilaf dan dosa-dosaku, baik yang besar, yang kecil, yang sengaja atau pun yang tidak sengaja, yang tampak maupun yang tidak tampak, yang lalu maupun yang akan datang, sungguh banyak dosaku Ya Allah akibat kebodohanku, akibat ketidak mampuanku mengendalikan hawa nafsuku, panca indraku, sikapku tingkah laku. Tanpa ampunan Mu sesungguhnya aku termasuk orang yang merugi.  Ya Rabb...rahmati dan ridhoilah aku, selamatkan dan lindungilah aku, istriku, anak-anakku, kedua orangtuaku, kedua mertuaku dunia akhirat.  Aamiin.

No comments: