Monday, August 4, 2014

SAAT PALING BERGUNANYA PERSAUDARAAN

Ditengah tidurku yang nyenak, sekira pukul 03.57 tiba-tiba HPku berbunyi. Aku langsung menghampiri HP itu dan menekan salah satu tombolnya untuk menghentikan bunyi dari HP itu. Aku mengira bahwa itu tanda untuk membangunkan aku untuk melakukan ibadah di tengah malam. HP itu aku pegang sambil duduk ditengah kegelapan dan mata yang agak buram melihat cahaya dari monitor HP, sekali lagi aku tatap monitor HP, mata masih silau melihat monitor HP, yang terlihat bukan tanda alaram, tapi nama pemanggil. Karena mataku memang sudah agak kurang jelas melihat, aku tak tau pasti siapa nama yang memanggil, perlahan HP itu aku dekatkan di telingaku.

Dengan suara yang lemah dan agak berat aku berkata "hallo". Diseberang langsung berkata "Mang, Innalillahi wa innailahirojiun, mang Jamil keponakan Inab, meninggal dunia, karena kecelakaan, sekarang jenazahnya ada di budikemuliaan (RS Swasta Besar di Batam-Milik keluarga Habibi-mantan Presiden RI)". Kemudian akupun berujar "Innalillahiwainnailaihirpjiun". Lalu aku letakakn HP itu tempat semula dan akupun baring lagi disamping istri yang tercinta. Entahlah kenapa aku berbaring lagi?, tapi aku sudah tak bisa memejamkan mata lagi, fikiranku jadi mulai terganggu oleh berita kematian itu.

Setelah beberapa saat aku putuskan untuk beranjak dari pembaringan dan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan terus sholat sunnat. Setelah itu aku memutuskan berangkat menuju RS Budi Kemuliaan, tempat jenazah berada. Sebelum berangkat akupun pamit pada istriku. Sebelum sampai di RS Budi Kemualian aku menyempatkan diri singgah disebuah mesjid tak jauh dari RS Budi Kemuliaan untuk sholat subuh berjamaah disana, lalu setelah itu akupun menuju RS Budi Kemulian.

Sampai di sana dari kejauhan sudah terlihat didepan ruang jenazah itu, ramai orang. Akupun langsung menyalami dan menyapa beberapa orang yang saya lalui menuju jenazah. Semua berawajah muram dan bahkan masih ada yang menangis. Setelah berdiri persis disamping jenazah saya lalu membuka kain penutup terlihatlah wajahnya sudah kaku, pucat dan beberapa bagian sedikit biru, dagunya sudah diikat dengan seutas kain putih  kebagian atas kepalanya agar mulutnya tetap tertutup. Saya hening sejenak, lalu keluar ruangan, sambil mengingatkan saudara-saudara sekampung untuk sholat subuh bagi yang belum sholat subuh, tapi hibauan saya tidak ada yang menggubris apa karena sudah sholat semua atau apa ya...entahlah.

Si Jenazah (semasa hidupnya) merantau ke Batam, hanya mengikuti saudara sepupu kebetulan saudara-saudara jauh atau sekampung juga banyak. Pihak keluarga terdekat sepupunya betul-betul larut dalam kedukaan, menangis, berhenti lalu menangis lagi dan seterusnya. Apa yang menjadi perhatian saya, dalam kondisi mendapat musibah berat seperti kematian. Secara umum orang jarang berlaku normal, dan logis bahkan tidak wajar. Maksud saya saat itu yang menerima musibah tidak mampu lagi diajak diskusi untuk hal-hal apa yang harus dilakukan, siapa yang harus dihubungi, siapa melakukan apa dan bagaimana?. Mereka larut dalam tangisan kesedihan, tak patut/tak etis pula bertanya-tanya. Hal yang manusiawi mendapat musibah orang menangis dan sedih.

Saya berkesimpulan itulah pentingnya bertetangga, membangun persaudaraan, membangun sosialisasi lainnnya. Gunanya untuk apa?, Ketika mendapatkan musibah yang berat untuk membantu, atau meringankan, atau untuk menghibur yang sedang tertimpa musibah. Para handaitolanlah yang sibuk menghubungi sana-sini, keluarga di Palembang dan di kampung Di Komering sana. Juga ikut mengatur atau mendiskusikan apa-apa yang harus dilakukan, termasuk memesan tiket pesawat, pengurusan berbagai hal di Rumah Sakit, dan sebagainya. Dalam kata sambutan mewakili keluarga saya sampaikan terima kasih atas segala bantuan, doa serta kehadirannya di RS Budi Kemuliaan, semoga almarhum diampuni segala dosa dan kesalahannya selama hidupnya dan diterima disisi Allah SWT, aamiin dan jika ada kesalahannya mohon dimaafkan, jika ada hutang piutang mohon diberitahukan.

Ternyata memang manusia itu butuh orang lain, tidak mungkin hidup sendirian, keculi ingin mati tanpa diurus, kecuali dapat musibah tak ingin di bantu. Saya heran terkadang orang sibuk bersosialisasi melalui media sosial 'facebook, twitter" dan sebagainya tapi orang dikiri-kanannya atau orang yang duduk disampingnya ia tak tegur, bahkan itu dilakukan saat di mesjid. Musibah sebetulnya ujian namun banyak manusia tidak menyadarinya, kematian adalah nasehat yang paling baik agar manusia sadar bahwa kelak akan mengalami kematian juga, agar bersiap-siap. Semoga bermanfaat.


No comments: