Tuesday, July 1, 2014

MAKAN DI PIZZA HUT

Makan di Pizza Hut, bagi kami sekeluarga termasuk barang mewah, makanya kami jarang sekali makan disana, belum tentu dalam setahun kami singgah dan makan disana. Lalu kenapa pula, kali ini kami singgah dan makan malam disana.

Ada hal-hal yang patut kami syukuri dan perlu sedikit memberikan sesuatu yang lebih buat kedua anak-anak kami. Pertama anak keduaku Farras Anruko telah di wisuda khataman membaca Al qur'an, kedua ia juga dinyatakan lulus SD dengan nilai UN tertinggi disekolahnya. Ketiga Anakku yang pertama Nabila Khansa naik kelas dua SMA, walau ranking 4 tapi kami tetap bangga karena dikelasnya itu kumpulan anak-anak rangking waktu di SMP masing-masing. Kami bersyukur karena kedua anakku masih mampu bersaing di Batam. Padahal dulu waktu kami baru pindah dari Bintan ke Batam ada yang meragukan kemampuan anak kami bersaing di Batam. Jadi apa salahnya sekali-sekali mengajak anak-anak makan ditempat yang agak mewah dan berbeda, dengan tetap memperhatikan halal tentunya.

Khusus untuk anakku yang nomor dua, ada sedikit cerita. Beberapa kali sejak kelas dua, anak saya itu kalau nilai murni hampir selalu tertinggi, tapi kalau sudah pindah nilai ke raport entah bagaimana ranking tidak jadi satu, bisa tiga, empat, bahkan lima, walau itu tidak selalu, maksud saya ia juga masih sering rangking satu. Saya sampai pernah dua kali mendatangi kepala sekolah mempertanyakan hal itu. Kami merasakan kalau anak kedua kami menjadi 'korban', permainan. Tidak dipungkiri banyak orangtua yang memberikan 'sesuatu' kepada wali kelas, sehingga mempengaruhi nilai raport.

Istri saya pernah berujar sama saya; "Adek (anak kami kedua) tu kalau nilai murni, rata-rata tertinggi terus, liat saja nanti nilai UNnya". Istriku berujar begitu seolah bertekad ingin membuktikan, kemampuan anak kami. Alhamdulillah, nilai UNnya tertinggi disekolahnya tahun 2014.

Kamipun pergi ke pizza hut untuk makan malam. Sampai disana kami disambut 'sapaan akrab' pelayannya yang ramah-ramah.  Setelah kami duduk kamipun diberikan 'daftar menu full color', menarik dan mewah, sang pelayan berujar jika sudah memilih dan memutuskan silahkan dengan...(dia menunjuk pelayan wanita) kelihatannnya lebih senior. Biasalah empat orang punya selera masing-masing, namun akhirnya kami sepakat pada 'sistim paket' untuk berempat. Setelah memilih dan memutuskan kamipun dihampiri pelayan yang ditunjuk pelayan pertama.

Setelah kami beri tahu apa yang kami kehendaki, sipelayan mencatat paket yang kami pesan. Yang namanya paket sebetulnya sudah tetap jumlah, isi, bentuk dan asesorisnya/rekan-rekannya. Namun dengan sigap sipelayan menawarkan tambahan-tambahan seperti; 'toping' pizza serta asesorisnya. Ia tawarkan tambahan keju, daging, dan seterusnya. Saya sama istri cepat menjawab "tak usah", Lalu istriku menambahkan seperti yang digambar/paket saja, kalau ditambah keju, lain hargakan?". Sipelayan menjawab "Ya".

Sipelayan mencatat untuk memastikan, namun tetap tak mau kalah, dengan menawarkan salad ala pizza hut, yang ini kami kabulkan, kami tergoda oleh tawarannya, karena kami fikir memang enak dan menyegarkan. Setelah itu dengan sigap ia mengulangi pesanan kami dan menyebut waktu yang dibutuhkan menghadirkan pesanan kami secara lengkap di atas meja.

Rupanya inilah mengapa ketika pelayan pertama menunjuk pelayan lain. Pelayan yang melayani/mencatat pesanan kami tentu sudah dipersiapkan, sehingga ketika pembeli memesan sesuatu maka pelayan harus bisa menciptakan/menggiring pesan-pesanan baru yang tanpa disadari oleh pembeli. Misalnya pada awalnya pesan cuma 'A' dengan kelihaian pelayan maka pesanan pembeli bisa A dan B bahkan C. Coba bandingkan direstoran atau tempat makan lainnya, belum banyak pelayan yang melakukan hal serupa Pizza Hut. Sungguh kreatif, patut ditiru.
Menurut saya Pizza Hut lebih islami karena memiliki seryifikat halal dan dicantumkan harganya, coba simak ada restoran terkenal tapi harganya kita tidak tahu, bisa saja apa yang kita pesan hari ini berbeda dengan hari esok walau paketnya sama, bisa juga dihari yang sama paket sama harganya berbeda, karena kita tidak melihat daftar harganya.


No comments: